Setting Bridge VirtualBox Di Ubuntu 10.04
Sudah menjadi ritual upgrade OS Ubuntu jika versi LTS rilis dari 8.04 ke 10.04 karena sudah di siapkan partisi khusus maka langsung saja install.
Saya lebih memilih clean install dari pada upgrade karena Os lebih bersih dan sistem yang lama biarkan berjalan.
Proses install relatif mudah kendala ditemukan ketika kita harus mengupgrade beberapa aplikasi yang ada. Salah satu aplikasi favorit saya adalah VirtualBox untuk Virtualisasi OS karena kebutuhan testing jaringan.
Kenapa saya pilih VirtualBox karena lebih mudah settingnya walaupun boros resources
untuk lebih jelas tentang Virtualisasi disini jelaskan
==================================================
Virtualbox itu full virtualization.
Jadi, dia memvirtualisasi seluruh hardware untuk si guest.
Kelebihannya:
OS guest sama sekali tidak tahu kalau dia jalan di atas mesin virtual. Dia kira dia jalan di atas hardware betulan.
Alhasil, hampir semua OS bisa jalan di atas virtualisasi penuh ini.
Kekurangannya:
Karena semua divirtualisasi penuh, jadi siguest ngomong pake bahasa haedware, diterjemahkan ke bahasa aplikasi sama virtualbox, lalu diterjemahkan lagi ke bahasa hardware, maka full virtualization macam virtualbox ini makan resource besar.
Xen itu paravirtualization.
Daripada guest ngomong dengan bahasa hardware, diterjemahkan menjadi bahasa aplikasi, lalu diterjemahkan kembali ke bahasa hardware, mending baik host maupun guest di-custom kernelnya agar ngomong dengan bahasa yang sama, sehingga lebih cepat.
Kelebihannya:
Lebih cepat, hemat resource.
Kekurangannya:
Lebih sedikit OS yang disupport
Ada lagi OS level virtualization, seperti openvz.
Yang ini paling cepat dan paling hemat resource. Karena si guest tidak perlu kernel. Dia jalan menggunakan kernelnya si host. Alhasil, semua guest bisa saling sharing memory (kalau kita perbolehkan). Kalau di full virtualization dan paravirtualization, ram host harus lebih besar dari total alokasi ram guest, maka di os level virtualization tidak.
Jalankan 100 mesin virtual dengan RAM beberapa GB pun bisa.
Kelebihan:
amat sangat hemat resource.
Kekurangan:
Guest dan host harus OS yang sama, walaupun boleh beda distro.
Kesimpulan:
Use the right tools for the right job.
* Kalau baik host maupun guest semuanya linux, gunakan os level virtualization
* kalau os mulai beragam (misalnya ada linux, ada windows), gunakan paravirtualization.
* kalau hanya untuk coba coba, atau hanya untuk memamerkan/mempertunjukkan ke siswa, atau os guest tidak disupport oleh paravirtualisasi, gunakan full virtualization.
Kesimpulan dari kesimpulan:
Yang bapak lakukan sudah benar.
Pakai virtualbox sudah cukup.
==================================================
Download VirtualBox Untuk Ubuntu 10.04 disini pastikan pc/Laptop anda terhubung dengan internet agar proses lebih mudah. Jika proses download selesai langsung klik 2x virtualbox-3.2_3.2.6-63112~Ubuntu~lucid_i386 pilih Install secara otomatis akan mendownload paket tambahan.
Pada komputer Host Untuk kebutuhan bridge install paket bridge-utils dan jangan lupa untuk kebutuhan editor install paket vim
$ sudo apt-get install bridge-utils vim
Cek apakah paket sudah terinstall
$ dpkg -l | grep bridge-utils
Kemudian Edit
$ sudo vim /etc/network/interfaces
|
auto lo iface lo inet loopback auto br0 auto eth0 |
Restart network
| $ sudo /etc/init.d/networking restart |
restart virtualbox
$ sudo /etc/init.d/vboxdrv restart
Jalankan aplikasi VirtualBox
Pada Guest Os setting pilih pada bagian Network
Attached to : Bridge adapter
Name : br0
Kemudian jalankan Guest Os jangan lupa set ip